JAKARTA - Sepanjang ruas Jalan Ketel arah PLTU Tanjung Priok, Jakarta Utara, alami kerusakan parah akibat kerap dilintasi truk over dimension over loading (ODOL). Kontur jalan bergelombang dengan ketinggian aspal yang tidak beraturan.
Dampak dari kerusakan jalan tersebut, angka kecelakaan di kawasan tersebut terus meningkat. Bahkan banyak kendaraan roda dua yang terjatuh akibat adanya jalan bergelombang tersebut.
BACA JUGA:
Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengatakan, harus ada langkah berani dan bijak dari pemerintah untuk menertibkan truk berdimensi dan bermuatan lebih.
"Tentunya dengan memperhatikan dan mempertimbangkan masalah kemanusiaan, sosial dan ekonomi. Perhitungan terkini (Ditjne Bina Marga), sebesar Rp 47,43 triliun setiap tahun pemborosan keuangan negara akibat kerusakan pada jalan nasional, provinsi dan kab/kota," kata Djoko dalam keterangannya, Jumat, 15 Agustus 2025.
Fenomena ODOL, sambungnya, menjadi salah satu gambaran buram tentang wajah kondisi angkutan logistik nasional dewasa ini.
Menurut Djoko, kecelakaan lalu lintas yang melibatkan angkutan truk menjadi salah satu penyebab fatalitas tertinggi kedua setelah kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor.
BACA JUGA:
"Keberadaan ODOL ini tidak hanya memberikan kerugian materi yang tinggi akibat fatalitas yang tinggi, akan tetapi keberadaan ODOL juga memberikan dampak yang tidak sedikit terhadap kondisi infrastruktur jalan Indonesia," katanya.
Djoko menilai, kondisi ini turut mendorong pemborosan anggaran negara. Perhitungan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Tahun 2025, indikasi pemborosan keuangan negara akibat kerusakan jalan pada jalan nasional, provinsi dan kab/kota sebesar Rp 47,43 triliun setiap tahun.
"Dari sisi ekonomi, ODOL selain tidak memenuhi standar kawasan perdagangan bebas ASEAN, juga membuat lemahnya daya saing nasional, termasuk salah satu penyebab menurunnya daya saing infrastruktur," ujarnya.
Bersumber data dari Polri yang diolah Bappenas (2025), lanjut Djoko, kecelakaan lalu lintas yang melibatkan angkutan barang sebesar 10,5 persen merupakan kedua tertinggi secara nasional.
"Peringkat pertama sepeda motor 77,4 persen. Selanjutnya, angkutan orang 8 persen, mobil penumpang 2,4 persen, kendaraan tidak bermotor 1,5 persen dan kendaraan listrik 0,2 persen. Angka kecelakaan dan jumlah korban terus bertambah setiap tahunnya dan akan berdampak pada kerugian ekonomi," katanya.
Seperti diketahui, Presiden Prabowo Subianto menyerahkan urusan penanganan penuntasan truk ODOL pada Kementerian Koordinator Bidang Ekonomi Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah.